MAKALAH SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM _Sejarah Dinasti Usmani di Turki, Sejarah Dinasti Syafawi di Persia dan Sejarah Dinasti Mughal di India hingga terbentuknya Banglades
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Dalam buku
Ensiklopedi Islam, Jilid 2 (Jakarta, Ichtar Baru Van Hoeve) dijelaskan bahwa
sejarah Islam telah melalui tiga periode, yaitu periode klasik (650-1250),
periode pertengahan (1250-1800 M), dan
periode modern (1800-sekarang).
Pada periode klasik, Islam mengalami kemajuan dan
masa keemasan. Hal ini ditandai dengan sangat luasnya wilayah kekuasaan Islam,
adanya integrasi antar wilayah Islam, dan adanya kemajuan di bidang ilmu dan
sains.
Pada abad pertengahan, Islam mengalami kemunduran.
Hal ini ditandai dengan tidak adanya lagi kekuasaan Islam yang utuh yang
meliputi seluruh wilayah Islam, dan terpecahnya Islam menjadi kerajaan-kerajaan
yang terpisah. Kerajaan-kerajaan itu antara lain:
1.
Dinasti Usmani
di Turki
2.
Dinasti Safawi
di Persia
3.
Dinasti Mughol
di India
Kerajaan-Kerajaan tersebut merupakan tiga kerajaan
terbesar pada masa itu. Dan keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru
mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar
Islam tersebut. Puncak kemajuan yang dicapai oleh Kerajaan Usmani terjadi pada
masa pemerintahan Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520-1566 M), puncak kemajuan
Kerajaan Safawi pada masa pemerintahan Abbas I (1588-1628 M), dan puncak
kemajuan Kerajaan Mughal pada masa Sultan Akbar (1542-1605 M).
Setelah masa tiga orang raja besar di tiga kerajaan
tersebut, kerajaan tersebut mulai mengalami kemunduran. Akan tetapi, proses
kemunduran itu berlangsung dalam kecepatan yang berbeda-beda. Di Kerajaan
Mughal, setelah Akbar, untuk beberapa lama pemerintahan masih dipegang oleh
raja-raja besar, yaitu Jehengir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658
M) dan Aurangzeb (1658-1707 M). Ketiga raja Mughal ini masih dapat
mempertahankan kemajuan yang dicapai pada masa Akbar. Baru setelah Aurangzeb,
Kerajaan Mughal mengalami kemunduran yang agak drastis. Kerajaan ini berakhir
pada tahun 1858 M.
Kerajaan Usmani, setelah Sultan Sulaiman al-Qanuni
wafat masih tetap kuat, bahkan masih mampu melakukan ekspansi ke beberapa
daerah Eropa Timur. Berbeda dengan dua kerajaan besar yang lain, Kerajaan
Usmani adalah yang terbesar. Karena itu, meskipun banyak mengalami kemunduran
yang cukup drastis di akhir abad ke-17 dan abad ke-18 M, ia tetap dipandang
sebagai sebuah Negara besar yang disegani lawan. Kerajaan ini baru berakhir
pada abad ke 20-M.
Kemunduran yang paling drastis di alami Kerajaan
Safawi. Setelah Abbas, raja-raja Kerajaan Safawi adalah orang-orang yang lemah
yang mengakibatkan kerajaan ini dengan cepat mengalami kemunduran. Hanya satu
abad setelah ditinggal Abbas, kerajaan ini mengalami kehancuran.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Jelaskan sejarah
Dinasti Usmani di Turki ?
2.
Jelaskan sejarah
Dinasti Syafawi di Persia ?
3.
Jelaskan sejarah
Dinasti Mughal di India hingga terbentuknya Banglades ?
C.
TUJUAN MAKALAH
Menambah wawasan
dan pengetahuan kepada mahasiswa – mahasiswi Uin Raden Intan Lampung khususnya
jurusan PGMI mengenai :
1.
Sejarah Dinasti
Usmani di Turki
2.
Sejarah Dinasti
Syafawi di Persia
3.
Sejarah Dinasti
Mughal di India hingga terbentuknya Banglades
BAB II
PEMBAHASAN
A.
DINASTI USMANI
DI TURKI
Dinasti Usmani
berasal dari suku bangsa pengembara Qayigh Oghuz yang dipimpin oleh Sulaiman
Syah. Dia mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol yang
menyerang dunia Islam yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Khawarizmi Syah
pada tahun 1219-1220. Sulaiman dan anggota sukunya lari ke arah barat dan
meminta perlindungan kepada Jalaludin, pemimpin terakhir Dinasti Khawarizmi Syah
di Transoxiana. Jalaluddin menyuruh Sulaiman agar pergi ke arah barat (Asia
Kecil), kemudian mereka menetap disana dan pindah ke Syam dalam rangka
menghindari serangan Mongol. Dalam usahanya pindah ke Syam itu, pemimpin
orang-orang Turki mengalami kecelakaan dan hanyut di sungai Eufrat yang
tiba-tiba pasang karena banjir besar pada tahun 1228. Akhirnya mereka terbagi
menjadi dua kelompok, yang pertama ingin pulang ke negeri asalnya, dan yang
kedua meneruskan perjalanannya ke Asia Kecil. Kelompok kedua berjumlah sekitar
400 keluarga yang dipimpin oleh Ertoghol bin Sulaiman. Mereka menghambakan
dirinya pada Sultan Alauddin dari Dinasti Saljuk Rum yang pemerintahannya
berpusat di Konya, Anatolia, Asia Kecil. Tatkala dinasti saljuk berperang
melawan Romawi Timur (Bizantium), Ertoghol membantunya, sehingga Dinasti Saljuk
mengalami kemenangan. Sultan merasa senang dan memberinya wilayah kekuasaan
yang berbatasan dengan Bizantium, dan mereka menjadikan Sogud sebagai pusat
pemerintahannya.[1]
Ertoghol yang meninggal pada tahun 1289 meninggalkan
seorang putra bernama Usman. Dari nama Usman inilah kemudian muncul Dinasti
Usmani. Usman ini pula yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Usmani.
Sebagaimana ayahnya, dia abanyak berjasa kepada Sultan Alauddin dengan
keberhasilannya menaklukkan benteng-benteng Bizantium. Pada tahun 1300, bangsa
Mongol menyerang Dinasti Saljuk, dan Sultan Alauddin terbunuh. Dinasti Saljuk
pun terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil. Pada saat itu, Usman menyatakan
kemerdekaannya dan berkuasa penuh atas daerah-daerah yang didudukinya. Sejak
itulah Dinasti Usmani dinyatakan berdiri dan penguasa pertamanya adalah Usman
bin Ertoghol atau yang dikenal dengan sebutan Usman I.[2]
1.
Perluasan
Wilayah
Setelah Usman
mengumumkan dirinya sendiri sebagai Padyisah Al-Usman (Raja Besar Keluarga
Usman), dia mulai memperluas wilayahnya dengan cara mengirimkan surat kepada
pemimpin daerah sekitarnya yang berisi 3 pilihan, yaitu tunduk dan memeluk
agama Islam, membayar jizyah, atau diperangi. Untuk mendukung hal itu, anak
Usman, Orkhan yang saat itu menjabat sebagai panglima perang membentuk pasukan
tangguh yang dikenal dengan Yeniseri. Pasukan tersebut merupakan tentara utama
Dinasti Usmani yang terdiri dari bangsa Georgia dan Armenia yang baru masuk
islam. Para pasukan Yeniseri tersebut dididik dengan keras. Mereka diwajibkan
belajar ilmu-ilmu dunia dan juga
ilmu-ilmu agama. Mereka juga dididik oleh para tentara-tentara yang sudah
berpengalaman, sehingga tak diragukan lagi kemampuan fisik mereka jauh diatas
tentara-tentara lainnya.
Meskipun baru didirikan, Dinasti Usmani begitu kuat
dan sangat ditakuti. Banyak dari mereka yang tunduk dan memeluk islam, sebagian
yang lain mau membayar jizyah, tetapi ada pula yang bersekutu dengan suku
Tartar untuk melawannya. Usman pun tak gentar menghadapinya, dan akhirnya
berhasil menaklukkan musuh-musuhnya. Usman beserta anaknya, Orkhan, menyerang
daerah barat Bizantium hingga selat Bosphorus. Daerah ini adalah bagian bumi
Eropa yang pertama kali diduduki Dinasti Usmani.[3]
Ekspansi yang lebih besar terjadi pada masa Sultan
Murad I. Di masa ini, Dinasti Usmani berhasil menguasai Balkan, Andrianopel
(sekarang bernama Edirne, Turki), Macedonia, Sofia (Bulgaria), dan seluruh
wilayah Yunani. Melihat kemenangan yang diraih Sultan Murad I, kerajaan-kerajan
Kristen di Balkan dan Eropa timur menjadi murka. Mereka lalu menyusun kekuatan
yang terdiri atas Hungaria, Bulgaria, Serbia, Transylvania, dan Wallacia
(Rumania) untuk menggempur pasukan Usmani. Meskipun Sultan Murad I gugur dalam
pertempuran, pihak Usmani tetap meraih kemenangan. Ekspansi berikutnya
dilanjutkan oleh putranya, Bayazid I. Pada tahun 1931, pasukan Bayazid I dapat
merebut benteng Philadelpia dan Gramania atau Kirman (Iran). Dengan demikian,
Dinasti Usmani secara bertahap tumbuh menjadi kerjaaan besar.[4]
Puncak ekspansi Dinasti Usmani yaitu pada masa
Sultan Muhammad II yang dikenal dengan gelar Al-Fatih (sang penakluk). Pada
masanya, dilakukan ekspansi secara besar-besaran. Kota penting yang
ditaklukkannya yaitu Konstantinopel. Sultan Muhammad Al-Fatih masih berumur 17 Tahun
ketika menaklukkan Konstantinopel pada tanggal 28 Mei 1453. Setelah memasuki
kota, Sultan Muhammad Al-Fatih mengganti nama kota menjadi Istambul, dan
menjadikannya sebagai ibukota Dinasti Usmani. Sultan juga mengubah gereja
terbesar dan termegah waktu itu, Hagia Sophia, menjadi masjid.[5]
Ada lima faktor yang menyebabkan Dinasti Usmani
berhasil melakukan perluasan wilayah-wilayah Islam. (1) Kemampuan orang-orang
turki dalam strategi perang yang dikombinasikan dengan cita-cita memperoleh
ghanimah (harta rampasan perang). (2) Sifat dan karakter orang-orang Turki yang
selalu ingin maju dan tidak pernah diam serta gaya hidupnya yang sederhana,
sehingga memudahkan tujuan penyerangan. (3) Semangat jihad dan ingin
mengembangkan Islam. (4) Letak Istambul yang sangat strategis sebagai ibukota
kerajaan. Istambul terletak di antara dua benua dan dua lautan, dan pernah
menjadi pusat kebudayaan Macedonia, Romawi Timur, maupun Yunani. (5) Kondisi
kerajaan-kerajaan di sekitarnya sedang dalam kekacauan, sehingga memudahkan
penaklukannya.[6]
Bentuk kerajaan
Turki Usmani didasarkan kepada sistem feodal yang ditiru langsung dari kerajaan
Bizantium. Dalam sistem pemerintahan, sultan adalah penguasa tertinggi dalam
bidang agama, politik, pemerintahan, bahkan masalah-masalah perekonomian.
Raja-raja Dinasti Usmani bergelar Sultan sekaligus
Khalifah. Sultan menguasai kekuasaan duniawi, sedangkan Khalifah menguasai
bidang agama/spiritual/ukhrawi. Mereka mendapatkan kekuasan secara
turun-temurun, akan tetapi tidak harus putra pertamanya yang berhak menjadi
penggantinya. Ada kalanya putra kedua atau putra ketiga yang menjadi pengganti.
Bahkan pada perkembangan selanjutnya, pergantian kekuasaan diserahkan pada
saudara sultan, bukan anaknya.[7]
Dalam menjalankan pemerintahannya, sultan/khalifah
dibantu oleh seorang mufti atau yang lebih dikenal Syaikhul Islam dan Shadrul
Alam. Syaikhul Islam mewakili sultan/khalifah dalam melaksanakan wewenang
agamanya, sedangkan Shadrul Alam (perdana menteri) mewakili kepala negara dalam
menjalankan wewenang dunianya.
2.
Hasil Peradaban
Meskipun Dinasti
Usmani berkuasa cukup lama, yaitu sejak tahun 1299 hingga tahun 1922, tidak
berarti bahwa peradabannya maju pesat seperti Dinasti Abbasi. Hal ini
dikarenakan politik ekspansinya yang tidak diikuti dengan pembinaan wilayah
taklukannya, di samping para sultan setelah penaklukan Konstantinopel sultannya
lemah-lemah. Namun demikian, tingkat kemakmuran pemerintahannya lebih baik
dibandingkan dengan seluruh bagian Eropa yang dikuasi oleh kaum Kristen.
Demikian juga masyarakat Kristen yang berada di bawah kekuasaan Usmani lebih
banyak mendapatkan hasil bumi, kemerdekaan pribadi, dan hasil usaha lainnya,
dibandingkan dengan teman-teman mereka yang berada pada daerah kekuasaan
Kristen.[8]
Adapun ulama dan karya fenomenal pada masa Dinasti
Usmani yaitu Mustafa Ali (ahli sejarah, kitab Kunh
Al-Akbar), Evliya Chelebi (ahli ilmu sosial, kitab Seyabat Name), Arifi
(sejarawan, kitab Shah-name-I-Al-I Osman). [9]
Selain meninggalkan buku-buku sebagai kekayaan
sejarah, Dinasti Usmani juga meninggalkan sejumlah bangunan yang memperlihatkan
keunggulan penguasaan teknologi pada zamannya, seperti Masjid Hagia Sophia,
Masjid Agung Sultan Al-Fatih, Masjid Abu Ayyub Al-Anshari, Masjid Bayazid, dan
Masjid Sulaiman Al-Qanuni, yang merupakan masjid berarsitektur tinggi dengan
menggunakan “Kubah Batu” (ciri gereja Kristen) yang menggambarkan persaingan
antara Islam dan Kristen.[10]
3.
Kemunduran
Dinasti Usmani di Turki
Faktor-faktor
yang menyebabkan kerajaan Turki Usmani mengalami kemunduran yaitu: Wilayah
kekuasaan yang sangat luas; kerajaan Turki Usmani sering terlibat perang secara
terus-menerus sehingga susah untuk menjaga daerah yang telah dikuasai.
Kelemahan para penguasa; Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Dinasti Usmani
diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik kepemimpinannya maupun
kepribadiannya, sehingga mudah ditaklukkan bangsa lain. Heterogenitas penduduk;
sebagai kerajaan yang sangat besar, tentunya masyarakatnya terdiri dari
berbagai agama, aras, etnis yang berbeda sehingga diperlukan pengambilan
keputusan yang benar-benar bijaksana. Budaya korupsi; korupsi merupakan hal
yang umum terjadi dalam Dinasti Usmani, sehingga mengakibatkan rapuhnya moral
pemerintah. Pemberontakan tentara Yeniseri; tentara Yeniseri adalah tentara
terkuat, sehingga jika para pasukan Yeniseri memberontak pasti pemerintah
kalah. Merosotnya perekonomian; akibat perang yang tiada henti, perekonomian
merosot karena penguasa hanya mementingkan perang. Stagnasi dalam lapangan ilmu
dan teknologi; Dinasti usmani kurang berhasil dalam mengembangkan ilmu dan
teknologi, sehingga tidak mampu menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang
semakin maju.[11]
B.
DINASTI SYAFAWI
DI PERSIA
Dinasti
safawiyah di persia berdiri sejak tahun ( 1502-1722 M). Dinasti safawiyah
merupakan kerajaan islam di persia yang cukup besar. Awalnya kerajaan Safawi
brasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di
Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, yang diambil dari nama
Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan
nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan,
yakni kerajaan safawi. Shafi Ad-Din merupakan keturunan dari Imam Syiah yang
keenam, Musa Al-Kazhim gurunya bernama Syaikh Tajuddin Ibrahim zahidi (1216 –
1301). Shafi ad-Din mendirikan tarekat safawiyah setelah ia menggantikan guru
dan sekaligus mertuanya yang wafat pada tahun 1301 M. Pengikut tarekat ini
sangat teguh memegang ajaran agama. Tarekat safawiyah diambil dari nama
pendirinya, safi ad-Din dan nama syafawi terus di pertahankan sampai tarekat
ini menjadi gerakan politik. Nama itu terus di lestarikan setelah gerakan ini
berhasil mendirikan kerajaan.[12]
Di persia muncul suatu dinasti yang kemudian
merupakan suatu kerajaan besar di dunia islam. Dinasti ini berasal dari seorang
sufi syekh ishak safiuddin dari ardabil di azerbaijan yang beraliran syi’ah dan
mempunyai pengaruh besar di daerah persia.
Keadaan politik
dinasti syafawi mulai bangkit kembali setelah Abbas 1 naik tahta dari tahun
1587- 1629 yang menata administasi negara dengan cara yang lebih baik. Masa
kekuasaan Abbas 1 merupakan puncak kejayaan kerajaan syafawi. Secara politik ia
mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang menggangu stabilitas
negara dan berhasil merebut kembali wilayah wilayah yang pernah di rebut oleh
kerajaan lain pada masa raja raja sebelumnya. Usaha usaha yang di lakukan Abbas
1 berhasil membuat kerajaan safawi menjadi kuat. Setelah itu Abbas 1 mulai
memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha merebut kembali wilayah kekuasaannya
yang hilang.
Selama periode
safawiyah di persia ini (1502-1722 M) persaingan untuk mendapatkan kekuasaan
antara turki dan persia menjadi kenyataan. Peperangan ini berasal dari
kebencian Salim 1 yang berasal dari turki dan pengejaran terhadap seluruh umat
muslim di syi’ah di daerah kekuasaanya. Fanatisme sultan salim memaksanya untuk
membunuh 40.000 orang yang di dakwa telah mengingkari ajaran ajaran sunni.
1.
Kemajuan Dinasti
Syafawi
Kemajuan
peradaban dinasti safawiyah tidak hanya terbatas dalam bidang politik tetapi
kemajuan dalam berbagai bidang:
a.
Bidang keagamaan
Pada
masa Abbas,dalam bidang keagamaan yang menanamkan sikap toleransi terhadap
politik keagamaan tau lapang dada yang amat besar. Paham syi’ah tidak lagi
menjadi paksaan bahkan orang sunni dapat hidup bebas mengerjakan ibadahnya.
b.
Bidang
arsitektur
Kerajaan
safawi telah berhasil menciptakan isfahan, ibukota kerajaan menjadi kota yang
sangat indah. Di kota ini berdiri bangunan bangunan besar dengan arsitektur bernilai
tinggi dan indah seperti masjid, rumah sakit, sekolah, jembatan raksasa di atas
zende rud, dan istana chihil sutun. Dalam kota isfahan terdapat 162 masjid, 48
akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum.
c.
Bidang ekonomi
Kerajaan
syafawi pada massa Abbas 1 ternyata telah memacu perkembangan perekonomian
syafawi, terlebih setelah kepulauan hurmuz di kuasai dan pelabuhan gumrun
diubah menjadi bandar Abbas. Yang merupakan salah satu jalur dagang laut antara
timur dan barat yang biasa di perebutkan oleh belanda, inggris, dan perancis
sepenuhnya telah menjadi milik kerajaan syafawi. Di samping sektor perdagangan,
kerajaan syafawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah
bulan sabit subur.[13]
d.
Bidang ilmu
pengetahuan
Berkembangnya
ilmu pengetahuan masa kerajaan syafawi tidak lepas dari suatu doktrin mendasar
bahwa kaum syi’ah tidak boleh taqlid dan pintu ijtihad selamanya terbuka. Kaum
syi’ah tidak seperti kaum sunni yang mengatakan bahwa ijtihad telah terhenti
dan orang mesti taqlid saja. Kaum syi’ah tetap berpendirian bahwasannya
mujtahid tidak terputus selamanya.
Beberapa
ilmuan yang selalu hadir di majelis istana, yaitu: Baha Al-Din Al-Syaerazi
seorang filosof dan Muhammad Bagir Ibn Muhammad Damad, seorang filosof ahli
sejarah, teolog seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan
lebah.
e.
Bidang kesenian
Kemajuan
tampak begitu jelas dengan gaya arsitektur bangunannya, seperti terlihat pada
masjid syah yang di bangun tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat dalam
bentuk kerajinan tangan, kerajinan karpet, permadani, pakaian. Seni lukis mulai
di rintis sejak zaman Tamasp 1, raja ismail pada tahun 1522 M. Membawa seorang
pelukis Timur ke Tabriz, pelukis itu bernama Bizhard. Pada zaman Abbas 1
berkembanglah kebudayaan, kemajuan, dan keagungan pikiran mengenai seni lukis,
pahat, syair.
2.
Kemunduran
Dinasti Syafawi di Persia
Setelah Abbas 1,
dinasti safawi mengalami kemunduran. Sulaiman, pengganti Abbas 1, melakukan
penindasan dan pemerasan terhadap ulama sunni dan memaksakan ajaran syi’ah
kepada mereka. Penindasan semakin parah terjadi pada zaman sultan husein,
pengganti sulaiman. Penduduk afgan (saat itu bagian dari Iran) di paksa untuk
memeuk syi’ah dan di tindas. Penindasan ini melahirkan pemberontakan yang di
pimpin oleh Mahmud Khan (Amir
Kandahar) sehingga berhasil menguasai Herat, Masyhad, dan kemudian merebut
isfahan (1772 M). setelah itu, safawi diserang oleh Turki Usmani dan Rusia.
Wilayah Armenia dan beberapa wilayah azerbaijan direbut oleh Turki Usmani,
sedangkan beberapa wilayah propinsi laut kaspia di jilan, mazandaran dan
asteraban direbut oleh Rusia.
Setelah sebagian besar wilayah dikuasai oleh Afghan,
Turki Usmani dan Rusia, Nadir Syah (dinasti Asfhariah) karena mendapat dukungan
dari suku Zand di Iran Barat menundukan dinasti safawiyah. Nadir Syah (bergelar
Syah Iran) memadukan Sunni-Syi’ah untuk mendapat dukungan dari Afgan dan Turki
Usmani; dan ia mengusulkan agar madzhab fiqih ja’fari (Syi’ah) dijadikan
madzhab hukum yang kelima oleh ulama Sunni. Dinasti safawi pimpinan Nadir Syah
kemudian di taklukan oleh dinasti Qajar.
C.
SEJARAH DINASTI
MUGHAL DI INDIA HINGGA TERBENTUKNYA BANGLADESS
1.
DINASTI MUGHAL
DI INDIA (1526-1857 M)
Dinasti Mughal
berdiri seperempat abad sesudah berdirinya Dinasti Syafawi. Jadi, di antara tiga
kerajaan besar Islam tersebut kerajaan inilah yang termuda. Dinasti Mughal
bukanlah kerajaan Islam pertama di anak Benua India.[14]
Ibrahim Lodi (cucu sultan Lodi), sultan Delhi terakhir,
memenjarakan sejumlah bangsawan yang menentangnya. Hal ini memicu pertempuran
antara Ibrahim Lodi dengan Zahirudin Babur (cucu Timur Lenk) di panipazh (1526
M). Pada tanggal 21 April 1526 M terjadilah pertempuran yang dahsyat di
Panipazh. Ibrahim Lodi beserta ribuan
tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur memasuki kota Delhi sebagai
pemenang dan menegakkan pemerintahannya di sana. Sejak itulah berdiri dinasti
Mughal di India, dan Delhi dijadikan ibu kota.
Dinasti ini memiliki sultan-sultan yang besar dan
terkenal pada abad ke-17, yaitu Akbar (1556-1606), Jengahir (1605-1627), Syah
Jehan (1628-1658), dan Aurangzeb (1659-1707).[15]
Penguasa - penguasa Mughal setelah Aurangzeb tidak
berdaya dan tidak mampu mengembalikan supremasi Mughal. Penguasa-penguasa
Mughal sesudah Aungzeb antara lain:
Bahadur Syah (1707-1712), Azimus Syah (1712), Tihandar Syah (1713), Farukh
Syiyar (1713-1719), Muhammad Syah (1719-1748). Pengganti Muhammad Syah adalah
Ahmad Syah (1748-1754), diteruskan Alamgir II (1754-1759), Sah Alam
(1761-1806). Mulai pada tahun 1761 kerajaan Mughal yang sudah tidak berdaya
diserang oleh Ajmad Shah Durrani dari Afghan pada pertempuran Pannipat. Sejak
itu pelan tapi pasti Dinasti Mughal hancur dan lenyap dari India.[16]
a.
Kemajuan
Kerajaan Mughal
Kemajuan
yang dicapai pada masa dinasti Mughal merupakan sumbangan yang berarti dalam
mensyiarkan dan membangun peradaban Islam di India. Kemajuan-kemajuan tersebut
antara lain :
1)
Bidang Politik
dan Militer
Sistem
yang menonjol adalah politik sulh e-kul atau toleransi universal,yaitu
pandangan yang menyatakan bahwa derajat semua penduduk adalah sama. Sistem ini
sangat tepat karena mayoritas masyarakat India adalah Hindu sedangkan Mughal
adalah Islam.[17] Dalam urusan pemerintahan,
pada masa Akbar menyusun pentadbiran secara teratur yang jarang taranya,
sehingga Inggris satu setengah abad kemudian setelah menaklukan India, tidak
dapat memilih jalan lain, hanya meneruskan administrasi Sultan Akbar.[18]
Di
bidang militer, pasukan Mughal dikenal sebagai pasukan yang kuat. Akbar Khan
menjalankan pemerintahan bersifat militeristik, pemerintahan pusat dipimpin
oleh raja;
pemerintahan daerah dipimpin oleh kepala komandan (Sipah salat); dan
pemerintahan sub-daerah dipimpin oleh komandan (Faudjat) (1). Di samping itu,
Akbar pun membentuk Din Ilahi dan juga mendirikan Mansabdhari (lembaga
pelayanan umum yang berkewajiban sejumlah pasukan).[19]
2)
Bidang Ekonomi
Kontribusi
Mughal di bidang ekonomi adalah memajukan pertanian terutama untuk tanaman
padi, kacang, tebu, rempah-rempah, tembakau dan kapas. Di samping pertanian,
pemerintahan juga memajukan industri tenun, pertambangan dan perdagangan. Di
samping untuk kebutuhan dalam negeri, hasil industri ini banyak diekspor ke
luar negeri seperti Eropa, Arabia, dan Asia Tenggara bersaman dengan hasil
kerajinan, seperti pakaian tenun dan kain tipis bahan gordyn yang banyak
diproduksi di Gujarat dan Bengal. Untuk meningkatkan produksi, Jehangir
mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan pabrik pengolahan
hasil pertanian di Surat.[20]
3)
Bidang Seni dan
Arsitektur
Ciri
yang menonjol dari arsitektur Mughal adalah pemakaian ukiran dan marmer yang
timbul dengan kombinasi warna-warni. Bangunan sejarah yang ditinggalkan periode
ini adalah Tajmahal di Aqra, Benteng Merah, Jama Masjid, istana-istana, dan
gedung-gedung pemerintahan di Delhi.[21]
Sementara
dalam bidang sastra yang paling menonjol adalah karya gubahan penyair istana,
baik yang berbahasa Persia maupun bahasa India. Pada masa Akbar berkembang bahasa urdu, yang merupakan perpaduan dari
berbagai bahasa yang ada di India. Penyair India yang terkenal adalah Malik
Muhammad Jayadi seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar yang
berjudul Padmavat, sebuah karya alegoris yang mengandung pesan kebajikan jiwa
manusia.
Karya
seni yang masih dapat dinikmati sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang
dicapai kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan
mengagumkan. Pada masa Akbar dibangun istana Fatpur Sikri di Sikri, villa dan
mesjid-mesjid yang indah. Pada masa Syah Jehan dibangun mesjid berlapiskan
mutiara dan Taj Mahal di Agra,Mesjid Raya Delhi dan istana indah di Lahore.[22]
4)
Bidang Ilmu
Pengetahuan
Di
bidang pengetahuan kebahasaan Akbar telah menjadikan tiga bahasa nasional,
yaitu bahasa arab sebagai bahasa agama, bahasa Turki sebagai bangsawan dan
bahasa Persia sebagai bahasa istana kesusastraan.[23]
Di bidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan
sebuan Fatwa-Alamgri.[24]
b.
Kemunduran dan
Kehancuran Kerajaan Mughal
Setelah
satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjut
Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh
sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke-18 M kerajaan ini memasuki masa-masa
kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat
pusat menjadi ajang perebutan, gerakan sparatis Hindu di India Tengah, Sikh di
belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam.[25]
Pada
masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintahan pusat memang sudah muncul,
tetapi dapat diatasi. Pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan
Aurangzeb yang dengan keras menerapka pemikiran puritanisme. Setelah iya wafat,
penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang
ditinggalkan.[26] Sementara itu, para
pedagang inggris (EIC) untuk pertama kalinya diizinkan oleh Jehangir menanamkan
modal di India yang didukung oleh kekuatan bersenjata menjadi semakin kuat
menguasai wilayah pantai.[27]
Ada
beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal itu mundur pada satu
setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858 M,
yaitu:
1)
Terjadi stagnasi
dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di
wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim
Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil
dalam mengoperasikan persenjataan buatan Mughal sendiri.
2)
Kemerosotan
moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan
dalam penggunaan uang negara.
3)
Pendekatan
Aurangzeb yang berlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan
kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi
oleh sultan-sultan sebelumnya.
4)
Semua pewaris
tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang
kepemimpinan.
2.
PROSES
TERBENTUKNYA BANGLADES
Masa kemunduran
terjadi karena ketidakstabilan kekuasaan di dalam, kepemimpinan pusat menjadi
ajang perebutan, di samping itu didukung oleh faktor eksternal. Berbagai
gerakan separatis muncul dan semakin mengancam diantaranya gerakan separatis
Hindu di India tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur. Faktor
eksternal yang mendukung runtuhnya Mughal adalah datangnya IEC (perusahaan
asing Inggris) yang hampir menguasai wilayah India. Ketika posisi kerajaan
Mughal yang semakin melemah, pada saat itu juga, perusahaan IEC yang sudah kuat
mengangkat senjata melawan pemerintah kerajaan Mughal. Akhirnya, Syah Alam
sebagai sultan pada masa itu membuat perjanjian damai dengan menyerahkan sebagian
wilayah kepada Inggris.[28]
Pada tahun 1930 Muhammad Iqbal ( 1875-1938) dan
Muhammad Ali Jinnah (1876-1948) dari Liga Muslim menyerukan pembuatan negara
Muslim yang terpisah. Pada tingkat itu terdapat tiga posisi Muslim yang saling
berbeda mengenai kemerdekaan dan nasionalisme. Pertama, Menurut para pemuka
agama yang tradisional semacam Maula Abul, Ala Al Maududi mengemukakan
argumentasi bahwa nasionalisme dan Islam merupakan dua ideologi yang saling
berlawanan. Nasionalisme adalah bentuk partikularisme yang berlawanan dengan
universalisme Islam. Nasionalisme lahir dari Barat yang berakar pada perasaan
nasional yang sempit, rasial, geografis yang merupakan karakteristik Barat. Oleh
karena itu, seluruhnya termasuk dalam kesatuan masyarakat yang universal di
bawah kekuasaan hukum Tuhan. Dan barang siapa menerima prinsip Islam tidak bisa
terbagi oleh perbedaan nasionalitas, baikpun nasionalisme Muslim, dinyatakan
melawan Islam dan ditolak. Kedua, posisi Muslim diwakili oleh Abdul Kalam Azad
(1888-1958), tokoh teoritikus terbesar dalam Gerakan Khilafat, yang masih
mendukung partai kongres, bahkan menjabat sebagai presidennya. Sejak
berakhirnya gerakan Khilafat, filsafat politiknya beralih kepada “composite
nationalism”, yang terdiri dari masyarakat Hindu dan Muslim yang saling bekerja
sama. Walaupun dengan alasan yang berbeda, ia lebih conderung sepakat dengan al
Maududi dan pemuka keagamaan tradisonal yang menentang pembentukan Pakistan
sebagai negara Muslim. Ketiga, posisi Muslim yang diwakili Muhammad Iqbal dan
Ali Jinnah. Keduanya lebih memilih untuk memisahkan diri dan mendirikan negara
Muslim. Karena banyak pertimbangan-pertimbangan. Diantaranya, munculnya
konflik-konflik komunal antara Muslim dan Hindu menyebabkan bangkit prihatin
bahwa perpisahan antara Muslim-Hindu niscaya akan mengandung efek yang serius
terhadap hah-hak Muslim sebagai penduduk minoritas dalam sebuah negara yang
didominasi oleh Hindu.
Bagi sosok seperti Iqbal dan Ali Jinnah, pembaharu
agama dan politikus sekuler, awalnya memilih jalan kemerdekaan nasionalisme
India. Kemudian beralih pada Nasionalisme Muslim dan mendirikan sebuah negara
Muslim yang terpisah. Pada tanggal 20 Maret 1940, Muslim League mengadakan sidang
tahunan memutuskan sebuah resolusi menyerukan penciptaan negara Muslim dalam
wilayah barat laut (lembah Indus) dan wilayah belahan timur (Bengala) tempat
kediaman mayoritas Muslim. Pada 16 Desember tahun 1971 adalah awal dari cikal
bakal terbentuknya negara Bangladesh. Dua pekan setelah India menginvasi
wilayah bagian Timur Pakistan, kenyataan pahit harus diterima Pakistan. Tentara
mereka yang berjumlah 90 ribu harus menyerah terhadap pasukan India di wilayah
tersebut. Kekalahan itu begitu menyakitkan bagi Pakistan. Pasalnya, kekalahan
tersebut berakibat pada langkah Pakistan Timur yang resmi memisahkan diri dari
negaranya dan mendeklarasikan diri sebagai Bangladesh. Semenjak Inggris
mengakhiri kekuasaannya pada 1947 dari Barat dan Timur Pakistan kerap
berseteru. Perbedaan budaya serta adanya negara India yang memisahkan barat dan
timur ini semakin memicu dan membakar semangat Timur Pakistan untuk merdeka.
Sebenarnya sebelum peperangan itu pecah, pada Bulan
Maret tentara Pakistan Timur sudah memploklamirkan negara Bangladesh. Tapi hal
itu tak berlangung lama, Pakistan segera mengambil tindakan dan melakukan
serangan ke daerah itu. Namun, Bangladesh tampaknya harus banyak berterima
kasih kepada India. Kalau tidak ada bantuan dari negara tersebut sulit rasanya
negara Bangladesh bisa berdiri sampai sekarang ini. Walau mendapat bantuan
India, jalan panjang tetap harus dilalui Bangladesh, banyak warga terbunuh
jutaan orang mengungsi menjadi harga mahal yang harus di bayar Bangladesh. Tetapi
perjuangan Bangladesh akhirnya membuahkan hasil. Pada 1974 Pakistan akhirnya
resmi mengakui kemerdekaan dan kedaulatan negara Bangladesh.[29]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1.
Dinasti Usmani
berasal dari suku bangsa pengembara Qayigh Oghuz yang dipimpin oleh Sulaiman
Syah. Dia mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol yang
menyerang dunia Islam yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Khawarizmi Syah
pada tahun 1219-1220. Sulaiman dan anggota sukunya lari ke arah barat dan
meminta perlindungan kepada Jalaludin, pemimpin terakhir Dinasti Khawarizmi
Syah di Transoxiana.
2.
Dinasti
safawiyah di persia berdiri sejak tahun ( 1502-1722 M). Dinasti safawiyah
merupakan kerajaan islam di persia yang cukup besar. Awalnya kerajaan Safawi
brasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di
Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, yang diambil dari nama
Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik.
Bahkan nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan
kerajaan, yakni kerajaan safawi.
3.
Dinasti Mughal
berdiri seperempat abad sesudah berdirinya Dinasti Syafawi. Jadi, di antara tiga
kerajaan besar Islam tersebut kerajaan inilah yang termuda. Dinasti Mughal
bukanlah kerajaan Islam pertama di anak Benua India.
Muslim
League mengadakan sidang tahunan memutuskan sebuah resolusi menyerukan
penciptaan negara Muslim dalam wilayah barat laut (lembah Indus) dan wilayah
belahan timur (Bengala) tempat kediaman mayoritas Muslim. Pada 16 Desember
tahun 1971 adalah awal dari cikal bakal terbentuknya negara Bangladesh
B.
SARAN
Dengan segala
keterbatasan kami, demikianlah makalah ini kami buat. Kesempurnaan hanyalah
mlik Allah SWT. Oleh karena itu sudah pasti makalah ini memerlukan kritik dan
saran yang membangun dari pembaca demi lebih baiknya makalah ini. selamat
membaca dan semoga bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
http://artikel-blogserba.blogspot.com/2011/01/peradaban-islam-masa-tiga-kerajaan.html.
Mubarok, Jaih.
2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : CV. PUSTAKA ISLAMIKA
Samsul Munir.
2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Amzah
Sodikin, Ali
dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga
& LESFI : Yogyakarta
Suntiah, Ratu.
Sejarah Peradaban Islam. CV. INSAN MANDIRI
Supriyadi, Dedi.
2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Setia
Syukur, Fatah.
2009. Sejarah Peradaban Islam. Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra
Syalabi, Ahmad.
1988. Sejarah dan Kebudayan Islam: Imperium Turki Usmani. Jakarta : Kalam Muli
Yatim, Badri. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta
: PT. RajaGrafindo Persada
[1]
Sodikin, Ali dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab
IAIN Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta hlm 152
[2] Ibid hlm 151).
[3]
Samsul Munir. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Amzah hlm 195
[4]
Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN
Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta
155
[5] Samsul Munir. 2009. Sejarah
Peradaban Islam. Jakarta : Amzah hlm 199
[6]
Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN
Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta156
[7] Ibid hlm 157
[8]
Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN
Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta
hlm 157
[9]
Jaih Mubarok. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : CV. PUSTAKA ISLAMIKA
hlm 206-207).
[10] Ibid hlm 207
[12] Badri
Yatim, 2008, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada hlm 138
[13] Badri Yatim. 2008. Sejarah
Peradaban Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada hlm 144
[14] Badri Yatim. 2008. Sejarah
Peradaban Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada hlm 145
[15]
Dedi supriyadi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Setia
hlm 261
[16] Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah
Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI:
Yogyakarta 219-220
[17] Ibid hlm 220
[18]
Dedi supriyadi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Setia
hlm 262
[19] Jaih Mubarok. 2008. Sejarah
Peradaban Islam. Bandung : CV. PUSTAKA ISLAMIKA hlm 244
[20]
Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN
Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta
hlm 220
[21] Ibid 221
[22] Dedi Supriyadi 2008, Sejarah Peradaban Islam. Bandung :
Pustaka Setia hlm 263
[23] Ibid hlm 221
[24] Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah
Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI:
Yogyakarta
hlm 221
[25] Badri Yatim. 2008. Sejarah
Peradaban Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada hlm 159
[26] Ibid hlm 159
[27] Ratu suntiah. Sejarah Peradaban
Islam. CV. INSAN MANDIRI hlm 147
[28] Badri Yatim. Sejarah Peradaban
Islam,(Jakarta:PT RajaGrafindo Persada,2003 hlm.160
[29]
http://eprints.radenfatah.ac.id/632/1/PUJIATUN%20PATMASARI_AdabSKI.pdf dikutip
pada 20 Maret 2019 pukul 13.00
Komentar
Posting Komentar