MAKALAH SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM _Sejarah Dinasti Usmani di Turki, Sejarah Dinasti Syafawi di Persia dan Sejarah Dinasti Mughal di India hingga terbentuknya Banglades


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Dalam buku Ensiklopedi Islam, Jilid 2 (Jakarta, Ichtar Baru Van Hoeve) dijelaskan bahwa sejarah Islam telah melalui tiga periode, yaitu periode klasik (650-1250), periode  pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern (1800-sekarang).
Pada periode klasik, Islam mengalami kemajuan dan masa keemasan. Hal ini ditandai dengan sangat luasnya wilayah kekuasaan Islam, adanya integrasi antar wilayah Islam, dan adanya kemajuan di bidang ilmu dan sains.
Pada abad pertengahan, Islam mengalami kemunduran. Hal ini ditandai dengan tidak adanya lagi kekuasaan Islam yang utuh yang meliputi seluruh wilayah Islam, dan terpecahnya Islam menjadi kerajaan-kerajaan yang terpisah. Kerajaan-kerajaan itu antara lain:
1.      Dinasti Usmani di Turki
2.      Dinasti Safawi di Persia
3.      Dinasti Mughol di India
Kerajaan-Kerajaan tersebut merupakan tiga kerajaan terbesar pada masa itu. Dan keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar Islam tersebut. Puncak kemajuan yang dicapai oleh Kerajaan Usmani terjadi pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520-1566 M), puncak kemajuan Kerajaan Safawi pada masa pemerintahan Abbas I (1588-1628 M), dan puncak kemajuan Kerajaan Mughal pada masa Sultan Akbar (1542-1605 M).
Setelah masa tiga orang raja besar di tiga kerajaan tersebut, kerajaan tersebut mulai mengalami kemunduran. Akan tetapi, proses kemunduran itu berlangsung dalam kecepatan yang berbeda-beda. Di Kerajaan Mughal, setelah Akbar, untuk beberapa lama pemerintahan masih dipegang oleh raja-raja besar, yaitu Jehengir (1605-1628 M), Syah Jehan                                    (1628-1658 M) dan Aurangzeb (1658-1707 M). Ketiga raja Mughal ini masih dapat mempertahankan kemajuan yang dicapai pada masa Akbar. Baru setelah Aurangzeb, Kerajaan Mughal mengalami kemunduran yang agak drastis. Kerajaan ini berakhir pada tahun 1858 M.
Kerajaan Usmani, setelah Sultan Sulaiman al-Qanuni wafat masih tetap kuat, bahkan masih mampu melakukan ekspansi ke beberapa daerah Eropa Timur. Berbeda dengan dua kerajaan besar yang lain, Kerajaan Usmani adalah yang terbesar. Karena itu, meskipun banyak mengalami kemunduran yang cukup drastis di akhir abad ke-17 dan abad ke-18 M, ia tetap dipandang sebagai sebuah Negara besar yang disegani lawan. Kerajaan ini baru berakhir pada abad ke 20-M.
Kemunduran yang paling drastis di alami Kerajaan Safawi. Setelah Abbas, raja-raja Kerajaan Safawi adalah orang-orang yang lemah yang mengakibatkan kerajaan ini dengan cepat mengalami kemunduran. Hanya satu abad setelah ditinggal Abbas, kerajaan ini mengalami kehancuran.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Jelaskan sejarah Dinasti Usmani di Turki ?
2.      Jelaskan sejarah Dinasti Syafawi di Persia ?
3.      Jelaskan sejarah Dinasti Mughal di India hingga terbentuknya Banglades ?
C.     TUJUAN MAKALAH
Menambah wawasan dan pengetahuan kepada mahasiswa – mahasiswi Uin Raden Intan Lampung khususnya jurusan PGMI mengenai :
1.      Sejarah Dinasti Usmani di Turki
2.      Sejarah Dinasti Syafawi di Persia
3.      Sejarah Dinasti Mughal di India hingga terbentuknya Banglades




BAB II
PEMBAHASAN
A.    DINASTI USMANI DI TURKI
Dinasti Usmani berasal dari suku bangsa pengembara Qayigh Oghuz yang dipimpin oleh Sulaiman Syah. Dia mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol yang menyerang dunia Islam yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Khawarizmi Syah pada tahun 1219-1220. Sulaiman dan anggota sukunya lari ke arah barat dan meminta perlindungan kepada Jalaludin, pemimpin terakhir Dinasti Khawarizmi Syah di Transoxiana. Jalaluddin menyuruh Sulaiman agar pergi ke arah barat (Asia Kecil), kemudian mereka menetap disana dan pindah ke Syam dalam rangka menghindari serangan Mongol. Dalam usahanya pindah ke Syam itu, pemimpin orang-orang Turki mengalami kecelakaan dan hanyut di sungai Eufrat yang tiba-tiba pasang karena banjir besar pada tahun 1228. Akhirnya mereka terbagi menjadi dua kelompok, yang pertama ingin pulang ke negeri asalnya, dan yang kedua meneruskan perjalanannya ke Asia Kecil. Kelompok kedua berjumlah sekitar 400 keluarga yang dipimpin oleh Ertoghol bin Sulaiman. Mereka menghambakan dirinya pada Sultan Alauddin dari Dinasti Saljuk Rum yang pemerintahannya berpusat di Konya, Anatolia, Asia Kecil. Tatkala dinasti saljuk berperang melawan Romawi Timur (Bizantium), Ertoghol membantunya, sehingga Dinasti Saljuk mengalami kemenangan. Sultan merasa senang dan memberinya wilayah kekuasaan yang berbatasan dengan Bizantium, dan mereka menjadikan Sogud sebagai pusat pemerintahannya.[1]
Ertoghol yang meninggal pada tahun 1289 meninggalkan seorang putra bernama Usman. Dari nama Usman inilah kemudian muncul Dinasti Usmani. Usman ini pula yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Usmani. Sebagaimana ayahnya, dia abanyak berjasa kepada Sultan Alauddin dengan keberhasilannya menaklukkan benteng-benteng Bizantium. Pada tahun 1300, bangsa Mongol menyerang Dinasti Saljuk, dan Sultan Alauddin terbunuh. Dinasti Saljuk pun terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil. Pada saat itu, Usman menyatakan kemerdekaannya dan berkuasa penuh atas daerah-daerah yang didudukinya. Sejak itulah Dinasti Usmani dinyatakan berdiri dan penguasa pertamanya adalah Usman bin Ertoghol atau yang dikenal dengan sebutan Usman I.[2]
1.      Perluasan Wilayah
Setelah Usman mengumumkan dirinya sendiri sebagai Padyisah Al-Usman (Raja Besar Keluarga Usman), dia mulai memperluas wilayahnya dengan cara mengirimkan surat kepada pemimpin daerah sekitarnya yang berisi 3 pilihan, yaitu tunduk dan memeluk agama Islam, membayar jizyah, atau diperangi. Untuk mendukung hal itu, anak Usman, Orkhan yang saat itu menjabat sebagai panglima perang membentuk pasukan tangguh yang dikenal dengan Yeniseri. Pasukan tersebut merupakan tentara utama Dinasti Usmani yang terdiri dari bangsa Georgia dan Armenia yang baru masuk islam. Para pasukan Yeniseri tersebut dididik dengan keras. Mereka diwajibkan belajar ilmu-ilmu  dunia dan juga ilmu-ilmu agama. Mereka juga dididik oleh para tentara-tentara yang sudah berpengalaman, sehingga tak diragukan lagi kemampuan fisik mereka jauh diatas tentara-tentara lainnya.
Meskipun baru didirikan, Dinasti Usmani begitu kuat dan sangat ditakuti. Banyak dari mereka yang tunduk dan memeluk islam, sebagian yang lain mau membayar jizyah, tetapi ada pula yang bersekutu dengan suku Tartar untuk melawannya. Usman pun tak gentar menghadapinya, dan akhirnya berhasil menaklukkan musuh-musuhnya. Usman beserta anaknya, Orkhan, menyerang daerah barat Bizantium hingga selat Bosphorus. Daerah ini adalah bagian bumi Eropa yang pertama kali diduduki Dinasti Usmani.[3]                                                 
Ekspansi yang lebih besar terjadi pada masa Sultan Murad I. Di masa ini, Dinasti Usmani berhasil menguasai Balkan, Andrianopel (sekarang bernama Edirne, Turki), Macedonia, Sofia (Bulgaria), dan seluruh wilayah Yunani. Melihat kemenangan yang diraih Sultan Murad I, kerajaan-kerajan Kristen di Balkan dan Eropa timur menjadi murka. Mereka lalu menyusun kekuatan yang terdiri atas Hungaria, Bulgaria, Serbia, Transylvania, dan Wallacia (Rumania) untuk menggempur pasukan Usmani. Meskipun Sultan Murad I gugur dalam pertempuran, pihak Usmani tetap meraih kemenangan. Ekspansi berikutnya dilanjutkan oleh putranya, Bayazid I. Pada tahun 1931, pasukan Bayazid I dapat merebut benteng Philadelpia dan Gramania atau Kirman (Iran). Dengan demikian, Dinasti Usmani secara bertahap tumbuh menjadi kerjaaan besar.[4]
Puncak ekspansi Dinasti Usmani yaitu pada masa Sultan Muhammad II yang dikenal dengan gelar Al-Fatih (sang penakluk). Pada masanya, dilakukan ekspansi secara                              besar-besaran. Kota penting yang ditaklukkannya yaitu Konstantinopel. Sultan Muhammad               Al-Fatih masih berumur 17 Tahun ketika menaklukkan Konstantinopel pada tanggal 28 Mei 1453. Setelah memasuki kota, Sultan Muhammad Al-Fatih mengganti nama kota menjadi Istambul, dan menjadikannya sebagai ibukota Dinasti Usmani. Sultan juga mengubah gereja terbesar dan termegah waktu itu, Hagia Sophia, menjadi masjid.[5]
Ada lima faktor yang menyebabkan Dinasti Usmani berhasil melakukan perluasan wilayah-wilayah Islam. (1) Kemampuan orang-orang turki dalam strategi perang yang dikombinasikan dengan cita-cita memperoleh ghanimah (harta rampasan perang). (2) Sifat dan karakter orang-orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam serta gaya hidupnya yang sederhana, sehingga memudahkan tujuan penyerangan. (3) Semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam. (4) Letak Istambul yang sangat strategis sebagai ibukota kerajaan. Istambul terletak di antara dua benua dan dua lautan, dan pernah menjadi pusat kebudayaan Macedonia, Romawi Timur, maupun Yunani. (5) Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya sedang dalam kekacauan, sehingga memudahkan penaklukannya.[6]
Bentuk kerajaan Turki Usmani didasarkan kepada sistem feodal yang ditiru langsung dari kerajaan Bizantium. Dalam sistem pemerintahan, sultan adalah penguasa tertinggi dalam bidang agama, politik, pemerintahan, bahkan masalah-masalah perekonomian.     
Raja-raja Dinasti Usmani bergelar Sultan sekaligus Khalifah. Sultan menguasai kekuasaan duniawi, sedangkan Khalifah menguasai bidang agama/spiritual/ukhrawi. Mereka mendapatkan kekuasan secara turun-temurun, akan tetapi tidak harus putra pertamanya yang berhak menjadi penggantinya. Ada kalanya putra kedua atau putra ketiga yang menjadi pengganti. Bahkan pada perkembangan selanjutnya, pergantian kekuasaan diserahkan pada saudara sultan, bukan anaknya.[7]
Dalam menjalankan pemerintahannya, sultan/khalifah dibantu oleh seorang mufti atau yang lebih dikenal Syaikhul Islam dan Shadrul Alam. Syaikhul Islam mewakili sultan/khalifah dalam melaksanakan wewenang agamanya, sedangkan Shadrul Alam (perdana menteri) mewakili kepala negara dalam menjalankan wewenang dunianya.
2.      Hasil Peradaban
Meskipun Dinasti Usmani berkuasa cukup lama, yaitu sejak tahun 1299 hingga tahun 1922, tidak berarti bahwa peradabannya maju pesat seperti Dinasti Abbasi. Hal ini dikarenakan politik ekspansinya yang tidak diikuti dengan pembinaan wilayah taklukannya, di samping para sultan setelah penaklukan Konstantinopel sultannya lemah-lemah. Namun demikian, tingkat kemakmuran pemerintahannya lebih baik dibandingkan dengan seluruh bagian Eropa yang dikuasi oleh kaum Kristen. Demikian juga masyarakat Kristen yang berada di bawah kekuasaan Usmani lebih banyak mendapatkan hasil bumi, kemerdekaan pribadi, dan hasil usaha lainnya, dibandingkan dengan teman-teman mereka yang berada pada daerah kekuasaan Kristen.[8]
Adapun ulama dan karya fenomenal pada masa Dinasti Usmani yaitu Mustafa Ali                  (ahli sejarah, kitab Kunh Al-Akbar), Evliya Chelebi (ahli ilmu sosial, kitab Seyabat Name), Arifi (sejarawan, kitab Shah-name-I-Al-I Osman). [9]
Selain meninggalkan buku-buku sebagai kekayaan sejarah, Dinasti Usmani juga meninggalkan sejumlah bangunan yang memperlihatkan keunggulan penguasaan teknologi pada zamannya, seperti Masjid Hagia Sophia, Masjid Agung Sultan Al-Fatih, Masjid Abu Ayyub Al-Anshari, Masjid Bayazid, dan Masjid Sulaiman Al-Qanuni, yang merupakan masjid berarsitektur tinggi dengan menggunakan “Kubah Batu” (ciri gereja Kristen) yang menggambarkan persaingan antara Islam dan Kristen.[10]
3.      Kemunduran Dinasti Usmani di Turki
Faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan Turki Usmani mengalami kemunduran yaitu: Wilayah kekuasaan yang sangat luas; kerajaan Turki Usmani sering terlibat perang secara terus-menerus sehingga susah untuk menjaga daerah yang telah dikuasai. Kelemahan para penguasa; Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Dinasti Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik kepemimpinannya maupun kepribadiannya, sehingga mudah ditaklukkan bangsa lain. Heterogenitas penduduk; sebagai kerajaan yang sangat besar, tentunya masyarakatnya terdiri dari berbagai agama, aras, etnis yang berbeda sehingga diperlukan pengambilan keputusan yang benar-benar bijaksana. Budaya korupsi; korupsi merupakan hal yang umum terjadi dalam Dinasti Usmani, sehingga mengakibatkan rapuhnya moral pemerintah. Pemberontakan tentara Yeniseri; tentara Yeniseri adalah tentara terkuat, sehingga jika para pasukan Yeniseri memberontak pasti pemerintah kalah. Merosotnya perekonomian; akibat perang yang tiada henti, perekonomian merosot karena penguasa hanya mementingkan perang. Stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi; Dinasti usmani kurang berhasil dalam mengembangkan ilmu dan teknologi, sehingga tidak mampu menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang semakin maju.[11]
B.     DINASTI SYAFAWI DI PERSIA
Dinasti safawiyah di persia berdiri sejak tahun ( 1502-1722 M). Dinasti safawiyah merupakan kerajaan islam di persia yang cukup besar. Awalnya kerajaan Safawi brasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, yang diambil dari nama Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan, yakni kerajaan safawi. Shafi Ad-Din merupakan keturunan dari Imam Syiah yang keenam, Musa Al-Kazhim gurunya bernama Syaikh Tajuddin Ibrahim zahidi (1216 – 1301). Shafi ad-Din mendirikan tarekat safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat pada tahun 1301 M. Pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Tarekat safawiyah diambil dari nama pendirinya, safi ad-Din dan nama syafawi terus di pertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Nama itu terus di lestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.[12]
Di persia muncul suatu dinasti yang kemudian merupakan suatu kerajaan besar di dunia islam. Dinasti ini berasal dari seorang sufi syekh ishak safiuddin dari ardabil di azerbaijan yang beraliran syi’ah dan mempunyai pengaruh besar di daerah persia.
Keadaan politik dinasti syafawi mulai bangkit kembali setelah Abbas 1 naik tahta dari tahun 1587- 1629 yang menata administasi negara dengan cara yang lebih baik. Masa kekuasaan Abbas 1 merupakan puncak kejayaan kerajaan syafawi. Secara politik ia mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang menggangu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah wilayah yang pernah di rebut oleh kerajaan lain pada masa raja raja sebelumnya. Usaha usaha yang di lakukan Abbas 1 berhasil membuat kerajaan safawi menjadi kuat. Setelah itu Abbas 1 mulai memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha merebut kembali wilayah kekuasaannya yang hilang.                           
Selama periode safawiyah di persia ini (1502-1722 M) persaingan untuk mendapatkan kekuasaan antara turki dan persia menjadi kenyataan. Peperangan ini berasal dari kebencian Salim 1 yang berasal dari turki dan pengejaran terhadap seluruh umat muslim di syi’ah di daerah kekuasaanya. Fanatisme sultan salim memaksanya untuk membunuh 40.000 orang yang di dakwa telah mengingkari ajaran ajaran sunni.
1.      Kemajuan Dinasti Syafawi
Kemajuan peradaban dinasti safawiyah tidak hanya terbatas dalam bidang politik tetapi kemajuan dalam berbagai bidang:
a.       Bidang keagamaan
Pada masa Abbas,dalam bidang keagamaan yang menanamkan sikap toleransi terhadap politik keagamaan tau lapang dada yang amat besar. Paham syi’ah tidak lagi menjadi paksaan bahkan orang sunni dapat hidup bebas mengerjakan ibadahnya.
b.      Bidang arsitektur
Kerajaan safawi telah berhasil menciptakan isfahan, ibukota kerajaan menjadi kota yang sangat indah. Di kota ini berdiri bangunan bangunan besar dengan arsitektur bernilai tinggi dan indah seperti masjid, rumah sakit, sekolah, jembatan raksasa di atas zende rud, dan istana chihil sutun. Dalam kota isfahan terdapat 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum.
c.       Bidang ekonomi
Kerajaan syafawi pada massa Abbas 1 ternyata telah memacu perkembangan perekonomian syafawi, terlebih setelah kepulauan hurmuz di kuasai dan pelabuhan gumrun diubah menjadi bandar Abbas. Yang merupakan salah satu jalur dagang laut antara timur dan barat yang biasa di perebutkan oleh belanda, inggris, dan perancis sepenuhnya telah menjadi milik kerajaan syafawi. Di samping sektor perdagangan, kerajaan syafawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah bulan sabit subur.[13]
d.      Bidang ilmu pengetahuan
Berkembangnya ilmu pengetahuan masa kerajaan syafawi tidak lepas dari suatu doktrin mendasar bahwa kaum syi’ah tidak boleh taqlid dan pintu ijtihad selamanya terbuka. Kaum syi’ah tidak seperti kaum sunni yang mengatakan bahwa ijtihad telah terhenti dan orang mesti taqlid saja. Kaum syi’ah tetap berpendirian bahwasannya mujtahid tidak terputus selamanya.
Beberapa ilmuan yang selalu hadir di majelis istana, yaitu: Baha Al-Din Al-Syaerazi seorang filosof dan Muhammad Bagir Ibn Muhammad Damad, seorang filosof ahli sejarah, teolog seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah.                     
e.      Bidang kesenian
Kemajuan tampak begitu jelas dengan gaya arsitektur bangunannya, seperti terlihat pada masjid syah yang di bangun tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat dalam bentuk kerajinan tangan, kerajinan karpet, permadani, pakaian. Seni lukis mulai di rintis sejak zaman Tamasp 1, raja ismail pada tahun 1522 M. Membawa seorang pelukis Timur ke Tabriz, pelukis itu bernama Bizhard. Pada zaman Abbas 1 berkembanglah kebudayaan, kemajuan, dan keagungan pikiran mengenai seni lukis, pahat, syair.
2.      Kemunduran Dinasti Syafawi di Persia
Setelah Abbas 1, dinasti safawi mengalami kemunduran. Sulaiman, pengganti Abbas 1, melakukan penindasan dan pemerasan terhadap ulama sunni dan memaksakan ajaran syi’ah kepada mereka. Penindasan semakin parah terjadi pada zaman sultan husein, pengganti sulaiman. Penduduk afgan (saat itu bagian dari Iran) di paksa untuk memeuk syi’ah dan di tindas. Penindasan ini melahirkan pemberontakan yang di pimpin oleh Mahmud Khan            (Amir Kandahar) sehingga berhasil menguasai Herat, Masyhad, dan kemudian merebut isfahan (1772 M). setelah itu, safawi diserang oleh Turki Usmani dan Rusia. Wilayah Armenia dan beberapa wilayah azerbaijan direbut oleh Turki Usmani, sedangkan beberapa wilayah propinsi laut kaspia di jilan, mazandaran dan asteraban direbut oleh Rusia.                 
Setelah sebagian besar wilayah dikuasai oleh Afghan, Turki Usmani dan Rusia, Nadir Syah (dinasti Asfhariah) karena mendapat dukungan dari suku Zand di Iran Barat menundukan dinasti safawiyah. Nadir Syah (bergelar Syah Iran) memadukan Sunni-Syi’ah untuk mendapat dukungan dari Afgan dan Turki Usmani; dan ia mengusulkan agar madzhab fiqih ja’fari (Syi’ah) dijadikan madzhab hukum yang kelima oleh ulama Sunni. Dinasti safawi pimpinan Nadir Syah kemudian di taklukan oleh dinasti Qajar.
C.     SEJARAH DINASTI MUGHAL DI INDIA HINGGA TERBENTUKNYA BANGLADESS
1.      DINASTI MUGHAL DI INDIA (1526-1857 M)
Dinasti Mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya Dinasti Syafawi.                    Jadi, di antara tiga kerajaan besar Islam tersebut kerajaan inilah yang termuda. Dinasti Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak Benua India.[14]
Ibrahim Lodi (cucu sultan Lodi), sultan Delhi terakhir, memenjarakan sejumlah bangsawan yang menentangnya. Hal ini memicu pertempuran antara Ibrahim Lodi dengan Zahirudin Babur (cucu Timur Lenk) di panipazh (1526 M). Pada tanggal 21 April 1526 M terjadilah pertempuran yang dahsyat di Panipazh. Ibrahim Lodi  beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur memasuki kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya di sana. Sejak itulah berdiri dinasti Mughal di India, dan Delhi dijadikan ibu kota.
Dinasti ini memiliki sultan-sultan yang besar dan terkenal pada abad ke-17, yaitu Akbar (1556-1606), Jengahir (1605-1627), Syah Jehan (1628-1658), dan Aurangzeb (1659-1707).[15]
Penguasa - penguasa Mughal setelah Aurangzeb tidak berdaya dan tidak mampu mengembalikan supremasi Mughal. Penguasa-penguasa Mughal sesudah Aungzeb                            antara lain: Bahadur Syah (1707-1712), Azimus Syah (1712), Tihandar Syah (1713), Farukh Syiyar (1713-1719), Muhammad Syah (1719-1748). Pengganti Muhammad Syah adalah Ahmad Syah (1748-1754), diteruskan Alamgir II (1754-1759), Sah Alam (1761-1806). Mulai pada tahun 1761 kerajaan Mughal yang sudah tidak berdaya diserang oleh Ajmad Shah Durrani dari Afghan pada pertempuran Pannipat. Sejak itu pelan tapi pasti Dinasti Mughal hancur dan lenyap dari India.[16]
a.       Kemajuan Kerajaan Mughal
Kemajuan yang dicapai pada masa dinasti Mughal merupakan sumbangan yang berarti dalam mensyiarkan dan membangun peradaban Islam di India. Kemajuan-kemajuan tersebut antara lain :
1)      Bidang Politik dan Militer
Sistem yang menonjol adalah politik sulh e-kul atau toleransi universal,yaitu pandangan yang menyatakan bahwa derajat semua penduduk adalah sama. Sistem ini sangat tepat karena mayoritas masyarakat India adalah Hindu sedangkan Mughal adalah Islam.[17] Dalam urusan pemerintahan, pada masa Akbar menyusun pentadbiran secara teratur yang jarang taranya, sehingga Inggris satu setengah abad kemudian setelah menaklukan India, tidak dapat memilih jalan lain, hanya meneruskan administrasi Sultan Akbar.[18]
Di bidang militer, pasukan Mughal dikenal sebagai pasukan yang kuat. Akbar Khan menjalankan pemerintahan bersifat militeristik, pemerintahan pusat dipimpin oleh                             raja; pemerintahan daerah dipimpin oleh kepala komandan (Sipah salat); dan pemerintahan sub-daerah dipimpin oleh komandan (Faudjat) (1). Di samping itu, Akbar pun membentuk Din Ilahi dan juga mendirikan Mansabdhari (lembaga pelayanan umum yang berkewajiban sejumlah pasukan).[19]
2)      Bidang Ekonomi
Kontribusi Mughal di bidang ekonomi adalah memajukan pertanian terutama untuk tanaman padi, kacang, tebu, rempah-rempah, tembakau dan kapas. Di samping pertanian, pemerintahan juga memajukan industri tenun, pertambangan dan perdagangan. Di samping untuk kebutuhan dalam negeri, hasil industri ini banyak diekspor ke luar negeri seperti Eropa, Arabia, dan Asia Tenggara bersaman dengan hasil kerajinan, seperti pakaian tenun dan kain tipis bahan gordyn yang banyak diproduksi di Gujarat dan Bengal. Untuk meningkatkan produksi, Jehangir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surat.[20]
3)      Bidang Seni dan Arsitektur
Ciri yang menonjol dari arsitektur Mughal adalah pemakaian ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi warna-warni. Bangunan sejarah yang ditinggalkan periode ini adalah Tajmahal di Aqra, Benteng Merah, Jama Masjid, istana-istana, dan gedung-gedung pemerintahan di Delhi.[21]
Sementara dalam bidang sastra yang paling menonjol adalah karya gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun bahasa India. Pada masa Akbar berkembang  bahasa urdu, yang merupakan perpaduan dari berbagai bahasa yang ada di India. Penyair India yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayadi seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar yang berjudul Padmavat, sebuah karya alegoris yang mengandung pesan kebajikan jiwa manusia.
Karya seni yang masih dapat dinikmati sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Pada masa Akbar dibangun istana Fatpur Sikri di Sikri, villa dan mesjid-mesjid yang indah. Pada masa Syah Jehan dibangun mesjid berlapiskan mutiara dan Taj Mahal di Agra,Mesjid Raya Delhi dan istana indah di Lahore.[22]
4)      Bidang Ilmu Pengetahuan
Di bidang pengetahuan kebahasaan Akbar telah menjadikan tiga bahasa nasional, yaitu bahasa arab sebagai bahasa agama, bahasa Turki sebagai bangsawan dan bahasa Persia sebagai bahasa istana kesusastraan.[23] Di bidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan sebuan Fatwa-Alamgri.[24]
b.      Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal
Setelah satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke-18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan sparatis Hindu di India Tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam.[25]
Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintahan pusat memang sudah muncul, tetapi dapat diatasi. Pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapka pemikiran puritanisme. Setelah iya wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkan.[26] Sementara itu, para pedagang inggris (EIC) untuk pertama kalinya diizinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India yang didukung oleh kekuatan bersenjata menjadi semakin kuat menguasai wilayah pantai.[27]
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal itu mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858 M, yaitu:
1)      Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan buatan Mughal sendiri.
2)      Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
3)      Pendekatan Aurangzeb yang berlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sebelumnya.
4)      Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.
2.      PROSES TERBENTUKNYA BANGLADES
Masa kemunduran terjadi karena ketidakstabilan kekuasaan di dalam, kepemimpinan pusat menjadi ajang perebutan, di samping itu didukung oleh faktor eksternal. Berbagai gerakan separatis muncul dan semakin mengancam diantaranya gerakan separatis Hindu di India tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur. Faktor eksternal yang mendukung runtuhnya Mughal adalah datangnya IEC (perusahaan asing Inggris) yang hampir menguasai wilayah India. Ketika posisi kerajaan Mughal yang semakin melemah, pada saat itu juga, perusahaan IEC yang sudah kuat mengangkat senjata melawan pemerintah kerajaan Mughal. Akhirnya, Syah Alam sebagai sultan pada masa itu membuat perjanjian damai dengan menyerahkan sebagian wilayah kepada Inggris.[28]
Pada tahun 1930 Muhammad Iqbal ( 1875-1938) dan Muhammad Ali Jinnah (1876-1948) dari Liga Muslim menyerukan pembuatan negara Muslim yang terpisah. Pada tingkat itu terdapat tiga posisi Muslim yang saling berbeda mengenai kemerdekaan dan nasionalisme. Pertama, Menurut para pemuka agama yang tradisional semacam Maula Abul, Ala Al Maududi mengemukakan argumentasi bahwa nasionalisme dan Islam merupakan dua ideologi yang saling berlawanan. Nasionalisme adalah bentuk partikularisme yang berlawanan dengan universalisme Islam. Nasionalisme lahir dari Barat yang berakar pada perasaan nasional yang sempit, rasial, geografis yang merupakan karakteristik Barat. Oleh karena itu, seluruhnya termasuk dalam kesatuan masyarakat yang universal di bawah kekuasaan hukum Tuhan. Dan barang siapa menerima prinsip Islam tidak bisa terbagi oleh perbedaan nasionalitas, baikpun nasionalisme Muslim, dinyatakan melawan Islam dan ditolak. Kedua, posisi Muslim diwakili oleh Abdul Kalam Azad (1888-1958), tokoh teoritikus terbesar dalam Gerakan Khilafat, yang masih mendukung partai kongres, bahkan menjabat sebagai presidennya. Sejak berakhirnya gerakan Khilafat, filsafat politiknya beralih kepada “composite nationalism”, yang terdiri dari masyarakat Hindu dan Muslim yang saling bekerja sama. Walaupun dengan alasan yang berbeda, ia lebih conderung sepakat dengan al Maududi dan pemuka keagamaan tradisonal yang menentang pembentukan Pakistan sebagai negara Muslim. Ketiga, posisi Muslim yang diwakili Muhammad Iqbal dan Ali Jinnah. Keduanya lebih memilih untuk memisahkan diri dan mendirikan negara Muslim. Karena banyak pertimbangan-pertimbangan. Diantaranya, munculnya konflik-konflik komunal antara Muslim dan Hindu menyebabkan bangkit prihatin bahwa perpisahan antara Muslim-Hindu niscaya akan mengandung efek yang serius terhadap hah-hak Muslim sebagai penduduk minoritas dalam sebuah negara yang didominasi oleh Hindu.
Bagi sosok seperti Iqbal dan Ali Jinnah, pembaharu agama dan politikus sekuler, awalnya memilih jalan kemerdekaan nasionalisme India. Kemudian beralih pada Nasionalisme Muslim dan mendirikan sebuah negara Muslim yang terpisah. Pada tanggal 20 Maret 1940, Muslim League mengadakan sidang tahunan memutuskan sebuah resolusi menyerukan penciptaan negara Muslim dalam wilayah barat laut (lembah Indus) dan wilayah belahan timur (Bengala) tempat kediaman mayoritas Muslim. Pada 16 Desember tahun 1971 adalah awal dari cikal bakal terbentuknya negara Bangladesh. Dua pekan setelah India menginvasi wilayah bagian Timur Pakistan, kenyataan pahit harus diterima Pakistan. Tentara mereka yang berjumlah 90 ribu harus menyerah terhadap pasukan India di wilayah tersebut. Kekalahan itu begitu menyakitkan bagi Pakistan. Pasalnya, kekalahan tersebut berakibat pada langkah Pakistan Timur yang resmi memisahkan diri dari negaranya dan mendeklarasikan diri sebagai Bangladesh. Semenjak Inggris mengakhiri kekuasaannya pada 1947 dari Barat dan Timur Pakistan kerap berseteru. Perbedaan budaya serta adanya negara India yang memisahkan barat dan timur ini semakin memicu dan membakar semangat Timur Pakistan untuk merdeka.
Sebenarnya sebelum peperangan itu pecah, pada Bulan Maret tentara Pakistan Timur sudah memploklamirkan negara Bangladesh. Tapi hal itu tak berlangung lama, Pakistan segera mengambil tindakan dan melakukan serangan ke daerah itu. Namun, Bangladesh tampaknya harus banyak berterima kasih kepada India. Kalau tidak ada bantuan dari negara tersebut sulit rasanya negara Bangladesh bisa berdiri sampai sekarang ini. Walau mendapat bantuan India, jalan panjang tetap harus dilalui Bangladesh, banyak warga terbunuh jutaan orang mengungsi menjadi harga mahal yang harus di bayar Bangladesh. Tetapi perjuangan Bangladesh akhirnya membuahkan hasil. Pada 1974 Pakistan akhirnya resmi mengakui kemerdekaan dan kedaulatan negara Bangladesh.[29]
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1.      Dinasti Usmani berasal dari suku bangsa pengembara Qayigh Oghuz yang dipimpin oleh Sulaiman Syah. Dia mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol yang menyerang dunia Islam yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Khawarizmi Syah pada tahun 1219-1220. Sulaiman dan anggota sukunya lari ke arah barat dan meminta perlindungan kepada Jalaludin, pemimpin terakhir Dinasti Khawarizmi Syah di Transoxiana.
2.      Dinasti safawiyah di persia berdiri sejak tahun ( 1502-1722 M). Dinasti safawiyah merupakan kerajaan islam di persia yang cukup besar. Awalnya kerajaan Safawi brasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, yang diambil dari nama Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan, yakni kerajaan safawi.
3.      Dinasti Mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya Dinasti Syafawi.                    Jadi, di antara tiga kerajaan besar Islam tersebut kerajaan inilah yang termuda. Dinasti Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak Benua India. 
Muslim League mengadakan sidang tahunan memutuskan sebuah resolusi menyerukan penciptaan negara Muslim dalam wilayah barat laut (lembah Indus) dan wilayah belahan timur (Bengala) tempat kediaman mayoritas Muslim. Pada 16 Desember tahun 1971 adalah awal dari cikal bakal terbentuknya negara Bangladesh
B.     SARAN
Dengan segala keterbatasan kami, demikianlah makalah ini kami buat. Kesempurnaan hanyalah mlik Allah SWT. Oleh karena itu sudah pasti makalah ini memerlukan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi lebih baiknya makalah ini. selamat membaca dan semoga bermanfaat.  

DAFTAR PUSTAKA
http://artikel-blogserba.blogspot.com/2011/01/peradaban-islam-masa-tiga-kerajaan.html.
Mubarok, Jaih. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : CV. PUSTAKA ISLAMIKA
Samsul Munir. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Amzah
Sodikin, Ali dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI : Yogyakarta
Suntiah, Ratu. Sejarah Peradaban Islam. CV. INSAN MANDIRI
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Setia
Syukur, Fatah. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra
Syalabi, Ahmad. 1988. Sejarah dan Kebudayan Islam: Imperium Turki Usmani. Jakarta : Kalam Muli
Yatim, Badri. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada


[1]  Sodikin, Ali dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta hlm 152
[2] Ibid hlm 151).
[3]  Samsul Munir. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Amzah hlm 195
[4]  Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta  155
[5] Samsul Munir. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Amzah hlm 199
[6]  Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta156
[7] Ibid hlm 157
[8]   Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta    hlm  157
[9]  Jaih Mubarok. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : CV. PUSTAKA ISLAMIKA hlm 206-207).
[10] Ibid hlm 207
[11]  Samsul Munir. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Amzah  hlm 208-209
[12] Badri Yatim, 2008, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada  hlm 138
[13] Badri Yatim. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada hlm 144
[14] Badri Yatim. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada hlm 145
[15]  Dedi supriyadi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Setia hlm 261
[16] Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta     219-220
[17] Ibid hlm 220
[18]  Dedi supriyadi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Setia hlm  262
[19] Jaih Mubarok. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : CV. PUSTAKA ISLAMIKA hlm 244
[20]  Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta    hlm 220
[21] Ibid 221
[22] Dedi Supriyadi 2008, Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Setia hlm 263
[23] Ibid hlm 221
[24] Ali Sodikin dkk. 2003. Sejarah Peraban Islam. Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI: Yogyakarta                                 hlm 221
[25] Badri Yatim. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada hlm 159
[26] Ibid hlm 159
[27] Ratu suntiah. Sejarah Peradaban Islam. CV. INSAN MANDIRI hlm 147
[28] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta:PT RajaGrafindo Persada,2003 hlm.160
[29] http://eprints.radenfatah.ac.id/632/1/PUJIATUN%20PATMASARI_AdabSKI.pdf dikutip pada 20 Maret 2019 pukul 13.00

Komentar

Postingan populer dari blog ini

makalah substansi konstitusi

MAKALAH HUKUM JUAL BELI DAN PINJAM MEMINJAM YANG BAIK DAN BENAR